Senin,  28 September 2020

Beraksi Di Masjid Jakarta

Sindikat Pembobol Kotak Amal Masjid Bergaya Pengusaha 

NS/RN/NET
Sindikat Pembobol Kotak Amal Masjid Bergaya Pengusaha 
Pembobol kotak amal masjid.

RADAR NONSTOP - Rapih dan santun bukan berarti baik. Sindikat pembobol kotak amal buktinya. 

Bergaya parlente dan seperti pengusaha, Abdulrahman Wahid nekat membobol banyak kotak amal. Pria 21 tahun ini sudah sukses membobol belasan kotak amal di masjid Jakarta.

Aksinya terhenti setelah wajahnya terekam kamera dan viral di media sosial (medsos). Kejadiannya di  Masjid Alhuriyah, Jalan Mampang Prapatan VI, Jakarta Selatan, Sabtu (3/2/2020).

BERITA TERKAIT :
Rusak Masjid, Cewek Buka Baju Saat Mau Ditangkap Satpol PP 
Masjid Agung At Tin TMII Tak Gelar Sholat Jumat

Kapolsek Mampang Prapatan Kompol Sujarwo menerangkan, kejadian berawal saat pengurus masjid bernama Rizah Hafiz melaporkan pencurian uang kotak amal masjid,  dibobol oleh tersangka dan viral di media sosial kemarin.

"Setelah kami telusuri, yakni oleh Kanit Reskrim Polsek Iptu Sigit Ari menyelidiki,  dan memburu, akhirnya berhasil menangkapnya di Stasiun Citayam, Bogor, Jawa Barat," kata Kapolsek Kompol Sujarwo.

Dalam pengakuan tersangka, dia membobol kota amal dengan menggunakan gerinda dan berpakain rapih,  celana bahan dan kemeja bak seperti pengusaha.

"Menurut keterangan pelaku,  uang yang ada di dalam kotak amal tersebut  berjumlah Rp 235 ribu. Aksinya ternyata bukan hanya sekali, ternyata berakali-kali di empat wilayah, yakni di Mampang, Pancoran, Jagakarsa,  dan Depok, Jawa Barat," tutur Kompol Sujarwo.

Dari kejadian tersebut, barang bukti yang diamankan yakni 1 unit gerinda (alat pemotong besi) warna hijau, 2 unit kabel roll listrik, 1 buah obeng warna kuning, 3 buah gembok yang rusak, 1 stel pakaian milik pelaku, 1 tas ransel milik pelaku warna hitam. Polisi menyita pula rekaman CCTV milik masjid.

Di Masjid Jagakarsa, tersangka mengaku menggasak Rp 3 juta, dan di Musholla Pancoran, Rp 1,2 juta. "Dari pengakuannya, ia melakukan aksi kejahatan karena faktor  ekonomi,  dan tersangka pengangguran. Namun dari pakaiannya orang tidak mencurigai dengan rapih," terangnya.