Jumat,  05 June 2020

Kabar Gembira Dari Jokowi Dan Amerika, Corona Musnah Dengan Sinar Matahari

NS/RN
Kabar Gembira Dari Jokowi Dan Amerika, Corona Musnah Dengan Sinar Matahari

RADAR NONSTOP - Cuaca panas diyakini mampu membunuh Corona. Virus mematikan dari Wuhan, China itu bakal punah bila kena sinar panas matahari. 

Hal ini berdasarkan hasil riset terbaru dari Amerika Serikat. William Bryan, direktur divisi sains dan teknologi di Department of Homeland Security, salah satu lembaga pemerintah AS, menyebut bahwa kombinasi sinar ultraviolet (UV) serta temperatur lebih hangat membuat COVID-19 tidak berdaya.

"Observasi kami sejauh ini yang paling mencolok adalah efek powerful sinar Matahari sepertinya membunuh virus itu, baik di permukaan maupun di udara," cetus Bryan, dari media Inggris, Metro.

BERITA TERKAIT :
MUI DKI: Shalat Jumat Dua Gelombang Tak Memungkinkan Di Indonesia
PSBB Lanjut, Bulan Juni Transisi, Makanya Warga Jangan Bangor

Ia menambahkan temperatur dan kelembapan yang meningkat juga membuat virus itu kelabakan. "Kami melihat efek mirip dengan temperatur dan kelembapan, di mana peningkatan temperatur dan kelembapan atau keduanya, secara umum kurang bagus buat virus ini," papar dia.

Di permukaan yang kena sinar Matahari dalam temperatur 25 derajat Celcius atau di atasnya, COVID-19 disebut mati hanya dalam waktu 2 menit. Temuan lainnya adalah cairan pemutih membunuh virus ini dalam 5 menit dan konsentrasi alkohol mematikannya hanya dalam 30 detik.

Virus corona bertahan lebih baik di ruang indoor dan lingkungan kering. Dengan temuan baru ini, mungkin bisa diterapkan upaya seperti menaikkan temperatur dan kelembapan di ruangan indoor terkontaminasi atau lebih memilih aktivitas di luar ruangan dengan sinar Matahari langsung.

Namun demikian, bukan berarti cuaca musim panas akan membunuh virus tersebut dan orang-orang diminta tetap waspada. Ia memperingatkan COVID-19 bisa selamat di cuaca hangat jika tidak terpapar oleh sinar Matahari langsung. Tapi tentu temuan ini membuat ada harapan.

"Ini hanyalah senjata lain dalam melawan (virus) ini yang bisa kita tambahkan. Kita tahu bahwa kondisi seperti musim panas akan menciptakan lingkungan di mana penularan bisa diturunkan dan itu adalah kesempatan bagi kita," ujar Bryan.

Sementara Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut makin tingginya suhu menyebabkan umur virus Corona COVID-19 di udara dan permukaan semakin pendek. Faktor paparan langsung sinar matahari juga berpengaruh.

Hal ini disampaikan Jokowi setelah mendengar pernyataan dari pejabat Department of Homeland Security dari pemerintah Amerika Serikat terkait penelitian terhadap virus korona atau COVID-19. 

Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa suhu udara, sinar matahari, dan tingkat kelembapan udara sangat mempengaruhi kecepatan kematian virus COVID-19 di udara dan di permukaan yang tidak berpori.

"Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi kelembapan, dan adanya paparan langsung sinar matahari akan semakin memperpendek masa hidup virus COVID-19 di udara dan di permukaan yang tidak berpori," ujar Jokowi dalam keterangan tertulis dari Setpres, Jumat (24/4/2020).

Jokowi mengatakan ini merupakan kabar gembira karena Indonesia beriklim tropis dengan suhu yang panas, udara lembap, dan kaya sinar matahari. Meski demikian, Presiden mengingatkan masyarakat agar terus menjalankan protokol pencegahan penularan COVID-19 secara disiplin.