Minggu,  12 July 2020

Belum Ada Niat Longgarkan PSBB, Anies: Kami Kerja Mengandalkan Sains

RN/CR
Belum Ada Niat Longgarkan PSBB, Anies: Kami Kerja Mengandalkan Sains
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan -Net

RADAR NONSTOP - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menegaskan, tidak memiliki rencana melonggarkan pembatasan sosial berskala besar hingga angka reproduksi dasar virus corona covid-19 belum di bawah 1.

Untuk diketahui, reproduction number adalah paramater seberapa besar populasi orang yang sakit menularkan Covid-19.

Karena itu, Anies tidak bisa memprediksi kapan rencana melonggarkan PSBB di Jakarta jika angka reproduksi belum di bawah 1.

BERITA TERKAIT :
Sehari Nambah 1.681, Corona Kapan Kelarnya Nih?
Lolos Hukuman Mati, Eti Toyib Kini Masuk Wisma Atlet Lawan Corona

"DKI Jakarta tidak berencana melakukan pelonggaraan sampai angka reproduksi di bawah 1. Jadi kami itu melakukan rencana pelonggaran bukan bulan apa, tapi bila di bawah 1, karena kami harus mengandalkan sains," ujar Anies dalam video streaming, Sabtu (16/5/2020).

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menyebut covid-19 tidak bisa diprediksi kapan berakhir.

Karenanya, kebijakan pelonggaran PSBB diambil harus berdasarkan pada ilmu pengetahuan, tidak asal-asalan.

"Ini bukan sesuatu yang kita bisa lihat, bukan sesuatu yang ada jadwalnya. Jadi misalnya seperti lebaran, yang bisa lebaran kan manusia, kalau virusnya kan enggak lebaran," ucap dia.

Anies menuturkan, saat ini pihaknya masih melakukan pengetatan untuk menekan penyebaran covid-19.

Iapun meminta masyarakat terbawa wacana pelonggaran PSBB.

"Kita berkumpul banyak orang, dari situ dia menular. Kita tidak berkumpul, tidak menular. Jadi jangan terbawa wacana pelonggaran saat ini. Ini kita masih suasana pengetatan," kata dia.

Anies menegaskan, Pemprov DKI sudah melakukan pengetatan sebelum diberlakukannya PSBB.

Salah satu kebijakan Anies yakni menghentikan sementara proses belajar mengajar di sekolah

"Sebenarnya di Jakarta sudah menyelenggarakan pembatasan sejak pertengahan Maret 15 Maret, sekolah ditutup. Kalau sekolah ditutup artinya ada satu setengah juta orang yang biasa di sekolah jadi di rumah."

Karenanya, "Kalau anak-anak sekolah itu satu setengah juta sebutlah yang diantar satu juta, berarti ada satu juta orang penghantar itu sudah dua setengah juta orang. Karena itu menutup sekolah penting," pungkasnya.