Rabu,  21 October 2020

Banyak Kader Marah

Kata Bu Mega Hasil Survei Tak Jadi Jaminan Untuk Menang Di Pilkada

NS/RN
Kata Bu Mega Hasil Survei Tak Jadi Jaminan Untuk Menang Di Pilkada

RADAR NONSTOP - Kunci kemenangan kepala daerah di pilkada adalah kerja keras. Hal ini ditegaskan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. 

Dengan kerja keras kata Presiden RI Ke-5 ini, maka calon kepala daerah bisa dan mampu menjadi sang juara. 

PDIP kata Mega, salah satu pertimbangannya dalam memberikan rekomendasi untuk bakal calon kepala daerah di Pilkada 2020 adalah hasil survei.  

BERITA TERKAIT :
Pak Tito Sebut Calon Kepala Daerah Pasang Orang Di KPU
Golkar Sponsor Dan PDIP Pendukung, Wajar Jadi Sasaran Kemarahan

Namun, Megawati mengatakan, banyak hasil survei kurang obyektif dan bahkan ada yang berbayar. Dengan kondisi itu, hasil survei tak serta merta menjadi pegangan PDIP. 

"Banyak juga menurut saya, survei yang kurang obyektif. Jadi bisa saja, ada juga survei yang dibayar," kata Mega dalam pidatonya di pembukaan program Sekolah Partai PDI-P angkatan ke-2 secara virtual , Rabu (26/8/2020). 

Mega menyatakan, dalam memberikan rekomendasi kepada bakal calon kepala daerah di Pilkada 2020, ia juga meminta masukan dari pengurus partai. 

"Saya punya tangan, struktur. Saya suruh nanya, itu gimana mau calon eksekutif, wah ini jangan Bu, ternyata surveinya bohong, kecil," ujarnya. 

Lebih lanjut, Mega menambahkan, hasil survei tidak menjamin kandidat akan bisa memenangkan Pilkada 2020. 

Anak biologis Bung Karno itu mengatakan, untuk memenangkan Pilkada 2020 para bakal calon kepala daerah harus bekerja keras. 

"Hari ini saya baru liat si A ini surveinya tinggi. belum tentu sebulan lagi apa akan sama, kalau dia enggak kerja," pungkasnya.

Kader Marah 

Mega juga mengaku banyak kader yang marah pada dirinya lantaran tidak mendapatkan rekomendasi dari PDIP. 

Dia mencontohkan kasus di Pilkada Medan. Menurutnya, urusan rekomendasi itu otoritas saya.

"Saya dipilih kongres partai, kongres ini memberikan hak prerogatif saya. Ada orang enggak direkomendasikan terus ngamuk, katanya kader partai. Terus saya pecat. Lho, orang saya yang punya hak prerogatif," sambungnya. 

Mega tak menyebutkan nama kader yang marah karena tak diberikan rekomendasi. Ia mengatakan, kader yang tidak mendapatkan rekomendasi Pilkada 2020 tak perlu sakit hati. 

"Mau marah sama saya boleh tapi pribadi. Kalau ketum enggak bisa. Itu adalah hak saya," ucapnya.

Lebih lanjut, Mega menekankan, rekomendasi hanya diberikan kepada kader yang memang layak untuk diberikan kepercayaan untuk memenangkan Pilkada 2020. 

"Ketika ada waktu kedua kali, saya enggak susah-susah kalau saya lihat keberhasilannya. Hendy Anas, Risma saya kasih dua kali (rekomendasi), tentunya melalui pengerucutan. Tolong diingat ini, untuk apa kalian jadi bupati walikota, kan melayani rakyat," pungkasnya. 

Untuk diketahui, Pelaksana Tugas Wali Kota Medan Akhyar Nasution dipecat dari keanggotaan partai karena loncat ke Partai Demokrat. Lalu, PDIP mendukung menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution sebagai calon Wali Kota Medan. 


 

#Pilkada2020   #PDIP   #Megawati   #